2.3.a.8. Koneksi Antar Materi

 

Sumber: dokumen pribadi


Coaching untuk Supervisi Akademik

CGP Angkatan 7 Kelas 35K

 

Fasilitator : Bapak Ismail

PP: Ibu Utami

CGP : Christina Susi Handayani, S.Pd.

Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2 dalam berbagai media

Refleksi pembelajaran Modul 2.3   Coaching sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, di mana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).

Paradigma berpikir Coaching

1.   Fokus pada coachee yang akan dikembangkan

Kita memusatkan perhatian kita pada rekan yang kita kembangkan, bukan pada "situasi" yang dibawanya dalam percakapan. Fokus diletakkan pada topik apa pun yang dibawa oleh rekan tersebut, dapat membawa kemajuan pada mereka, sesuai keinginan mereka.

2.   Bersikap terbuka dan ingin tahu

Kita perlu berpikiran terbuka terhadap pemikiran-pemikiran rekan sejawat yang kita kembangkan. Ciri-ciri orang yang ingin tahu: tidak menghakimimenerima pemikiran orang lainmenunjukkan rasa ingin tahu (curiosity)

3.   Memiliki kesadaran diri yang kuat

Kesadaran diri yang kuat membantu kita untuk bisa menangkap adanya perubahan yang terjadi selama pembicaraan dengan rekan sejawat, misalnya adanya emosi/energi yang timbul dan mempengaruhi percakapan

4.  Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Kita harus mampu melihat peluang perkembangan yang ada dan juga bisa membawa rekan kita melihat masa depan

 

Prinsip Coaching:

a.   Kemitraan

        Dalam coaching, posisi coach terhadap coachee-nya adalah mitra. Itu berarti setara, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Kemitraan ini diwujudkan dengan cara kita membangun kesetaraan dengan orang yang akan kita kembangkan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di antara keduanya

b.  Proses Kreatif

       Proses kreatif pada saat kita menggunakan prinsip coaching dalam mengembangkan kompetensi diri rekan sejawat dengan dua arah. Mendengarkan rekan kita dan bertanya untuk membantu rekan kita agar lebih memahami situasi dirinya, situasi ideal yang dia inginkan, serta langkah-langkah untuk membawa dia dari situasi dia saat ini ke situasi ideal yang dia inginkan. 

c.   Memaksimalkan potensi

Dalam rangka memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan coaching diakhiri dengan rencana tindak lanjut dari si Coachee

 

Coaching dalam konteks pendidikan

1.    Filosofi KHD

       Guru sebagai pamong memberikan tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak keluar dari jalurnya dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Di sini Guru dapat menggunakan proses coaching  untuk menemukan kekuatan dan potensi murid, sehingag mereka diberi kebebasan didalamnya

2.   Sistem among

        Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Kata-kata ini menjadi penyemangat yang menguatkan komunikasi guru dan murid dengan pendekatan coaching. Dalam proses coaching, komunikasi dibuat cair dan akrab, ini sangat sesuai dengan sistem among yang di canangkan oleh KHD, karena sistem among merupakan metode pengajaran berdasarkan asih, asah, dan asuh.

 

 

Kompetensi inti Coaching:

1.  Kehadiran penuh (presence)-kemampuan untuk hadir  secara utuh bagi si coachee, sehingga badan, pikiran, hati selaras saat proses coaching

2.  Mendengarkan aktif-coach yang baik adalah yang mendengarkan lebih banyak dan berbicara lebih sedikit. Fokus dari si caoch adalah coachee

3.  Mengajukan pertanyaan berbobot-coach mengajukan pertanyaan yang dapat menggugah orang untuk berpikir, menstimulus pemikiran coachee, mengungkapkan emosi, dan memunculkan hal baru 

Percakapan Berbasis Coaching dengan alur TIRTA

T : Tujuan – Dalam percakapan coaching, caoch harus tahu tujuan dari peracakapan atau diskusi dengan coachee, agar percakapan terarah

I : Identifikasi – Menggali semua yang terjadi pada coachee

R : Rencana Aksi – Coachee dibantu oleh coach untuk dapat memilih pemikiran yang dapat dijadikan rencana yang akan dilakukan

Ta : Tanggung Jawab – coachee berkomitmen terhadap sebuah rencana aksi dan melaksanakannya

Supervisi akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

Ø  Supervisi akademik adalah sebuah kegiatan di mana supervisi ini adalah kegiatan berkelanjutan atau berkesinambungan  yang akan meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu berpihak kepada anak/muridparadigma

Ø  Prinsip supervisi akademik dengan berpikir coaching antara lain: kemitraan, konstruktif, terencana, reflektif, objekstif, berkesinambunagn, dan komprehensif

Ø  Siklus supervisi akademik ada 3: pra-obseravasi, observasi, dan pasca-observasi

 

Pengalaman Reflektif

Ø  Semakin bersemangat untuk selalu mendapatkan ilmu baru dalam PGP

Ø  Ingin menerapkan prinsip Coaching kepada rekan sejawat dan murid agar semakin terasah keterampilan untuk proses coaching yang baik

Ø  Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki setelah melakukan praktik caoching antara lain dalam hal membuat pertanyaan yang berbobot, perlu banyak belajar.

Ø  Mengoptimalkan kekuatan diri dan potensi diri sebagai seorang guru  agar menjadi coach yang baik bagi rekan sejawat dan murid.

 

Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin  pembelajaran?

Coaching  jika diterapkan oleh guru sebagai penuntun pembelajaran kepada murid – muridnya maka hasilnya sangat membantu guru  dalam meningkatkan performa belajar, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari murid – murid yang dituntunnya. 

Coaching menjadikan  seorang guru mampu mendorong muridnya agar terbiasa mengembangkan kemampuan murid dalam berkomunikasi, berkolaborasi, dan berpikir kreatif selama proses coaching berlangsung untuk menggali potensinya sendiri sebagai bekal menyelesaikan permasalahan yang sedang dhadapinya guna mencapai kemerdekaan dalam belajar.

 

Keterkaitan antara Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional

Guru diibaratkan oleh Ki Hajar Dewantara seperti seorang petani yang merawat tanaman agar tumbuh subur, memerlukan berbagai cara agar pertumbuhan tanaman itu menjadi sangat baik, begitu juga jika seorang guru melayani muridnya dengan baik dan tepat diharapkan akan menghasilkan kepribadian dan hasil belajar muridnya baik.

Tiga cara yang saling melengkapi yang bisa dilakukan  guru adalah :

1. Menerapkan  Pembelajaran berdiferensiasi didalam kelas yang disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar murid  sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan murid  yang beragam.

2.  Menerapkan pembelajaran emosi dan  sosial dalam kelasnya

3. Menerapkan pendekatan coaching pada murid yang membutuhkan pengembangan diri (ini dapat dilakukan secara pribadi anatar guru dan murid)

Keterkaitan antara  kemampuan melakukan pembelajaran berdiferensiasi, kemampuan melakukan pembelajaran sosial emosional dan kemampuan melakukan pendekatan coaching pada murid dapat dijelaskan sebagai berikut:

Ketika seorang guru selesai melakukan pembelajaran berdiferensiasi yang berbasis pada minat dan  profil belajar murid, untuk memaksimalkan tumbuhnya kepribadian dan hasil belajar murid, guru dapat melakukan coaching pada murid – murid tertentu yang hasil  belajarnya kurang maksimal untuk menggali  permasalahan apa yang ada pada murid dan membantu menemukan solusi demi kemajuan belajar murid. 

Dalam   proses coaching, seorang guru membutuhkan keterampilan sosial emosional seperti, kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan berempati pada orang lain, dan kemampuan mempertanggungjawabkan hasil coaching yang dilakukan.

 

      

Hasil dari coaching ini tentu harus kita sampaikan kepada murid atau kepada pihak lain yang berkepentingan misalnya kepala sekolah atau orang tua dari murid untuk dilakukan peningkatan agar membantu murid meningkatkan kemampuan belajarnya.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat!
Salam Literasi!

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proofreading, Langkah Awal Menulis Berkualitas

Belajar Menulis? Cek Triknya